Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UNIMUDA Sorong Torehkan Prestasi Nasional, Libatkan Nayla Putri Maharani dan Amon Yosep Lemauk dalam Gerakan Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat
SORONG — Ketika banyak orang berbicara tentang pembangunan Papua, Yoga Andriyan, S.IP., M.I.P. memilih mengambil langkah nyata.
Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Politik, Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong, tersebut berhasil membawa nama UNIMUDA Sorong menembus kompetisi pendanaan nasional melalui Hibah Pendanaan Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Capaian itu bukan sekadar kabar baik bagi satu program studi.
Ini adalah pesan akademik dari ujung Timur Indonesia bahwa Papua memiliki gagasan, memiliki akademisi, memiliki mahasiswa, dan memiliki energi perubahan yang mampu berbicara di panggung nasional.
Dari Sorong, sebuah gagasan bergerak.
Dari ruang akademik, sebuah kolaborasi lahir.
Dan dari Tanah Papua, ilmu pengetahuan kembali menunjukkan kekuatannya untuk membangun masyarakat.
SATU NAMA, SATU GAGASAN, SATU GERAKAN
Di balik keberhasilan tersebut terdapat sosok akademisi muda, Yoga Andriyan, S.IP., M.I.P., yang menjadikan pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan sebagai ruang untuk membuktikan bahwa ilmu pemerintahan harus mampu menjawab persoalan nyata.
Baginya, kampus tidak boleh menjadi menara gading.
Kampus harus turun.
Mendengar masyarakat.
Membaca persoalan.
Membangun kolaborasi.
Kemudian menghadirkan solusi.
Semangat itulah yang menemukan momentumnya melalui Program Kosabangsa 2026.
“Hibah ini bukan sekadar tentang pendanaan. Ini adalah amanah akademik untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar hadir di tengah masyarakat. Kami ingin membangun kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata, sekaligus memberikan ruang kepada mahasiswa untuk belajar langsung dari kehidupan masyarakat,” ujar Yoga Andriyan.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa kemenangan hibah bukanlah garis akhir.
Justru inilah garis awal dari sebuah pengabdian yang lebih besar.
UNIMUDA SORONG: DARI KAMPUS UNTUK MASYARAKAT
Keberhasilan Yoga Andriyan mendapatkan Hibah Kosabangsa 2026 menjadi bagian dari perjalanan UNIMUDA Sorong dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Program Studi Ilmu Pemerintahan, capaian ini memiliki arti strategis.
Sebab pemerintahan tidak hanya berbicara tentang birokrasi.
Pemerintahan berbicara tentang manusia.
Tentang pelayanan.
Tentang keadilan.
Tentang pembangunan.
Tentang pemberdayaan.
Tentang bagaimana masyarakat memperoleh ruang untuk tumbuh dan menentukan masa depannya.
Karena itu, ilmu pemerintahan harus mampu keluar dari batas-batas ruang kuliah dan hadir dalam denyut kehidupan masyarakat.
Kosabangsa menjadi jembatan antara teori dan kenyataan.
NAYLA DAN AMON, DUA MAHASISWA YANG TURUT MENULIS SEJARAH
Yang membuat kisah ini semakin istimewa adalah keterlibatan dua mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UNIMUDA Sorong, Nayla Putri Maharani dan Amon Yosep Lemauk.
Keduanya menjadi bagian dari pelaksanaan program dan mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam proses pengabdian kepada masyarakat.
Di sinilah sebuah kemenangan hibah berubah menjadi ruang pembelajaran yang sesungguhnya.
Nayla dan Amon tidak hanya belajar dari buku.
Mereka belajar dari masyarakat.
Mereka tidak hanya memahami konsep tata kelola pemerintahan.
Mereka melihat langsung bagaimana persoalan sosial membutuhkan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, kepemimpinan, dan keberanian untuk mencari jalan keluar.
Mereka tidak sekadar menjadi mahasiswa.
Mereka sedang dipersiapkan menjadi generasi yang kelak mengambil peran dalam pembangunan Papua dan Indonesia.
KETIKA DOSEN MEMBUKA JALAN, MAHASISWA MELANJUTKAN PERJALANAN
Keterlibatan Nayla Putri Maharani dan Amon Yosep Lemauk juga memperlihatkan satu hal penting: prestasi dosen dapat menjadi pintu lahirnya pengalaman dan prestasi mahasiswa.
Yoga Andriyan tidak hanya membawa nama institusi dalam kompetisi pendanaan nasional.
Ia juga membawa mahasiswa masuk ke dalam ekosistem pengabdian yang sesungguhnya.
Inilah pendidikan yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan.
Dosen memberikan arah.
Mahasiswa mendapatkan pengalaman.
Masyarakat mendapatkan manfaat.
Institusi mendapatkan kontribusi.
Dan semuanya bertemu dalam satu kata: kolaborasi.
PAPUA BUKAN SEKADAR OBJEK PEMBANGUNAN
Ada pesan yang jauh lebih besar dari keberhasilan ini.
Papua tidak selamanya harus diposisikan sebagai objek pembangunan.
Papua juga harus tampil sebagai subjek yang melahirkan gagasan, inovasi, penelitian, pengabdian, dan solusi.
Keberhasilan Program Kosabangsa 2026 yang diraih Yoga Andriyan menjadi salah satu bukti bahwa akademisi dari Papua mampu mengambil bagian dalam agenda pengembangan masyarakat melalui skema pendanaan nasional.
Dari Sorong, gagasan itu bergerak.
Dari UNIMUDA, energi akademik itu dikembangkan.
Dan melalui mahasiswa seperti Nayla dan Amon, semangat itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
BUKAN HANYA TENTANG YOGA. BUKAN HANYA TENTANG UNIMUDA.
Capaian ini pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang ketua program studi yang berhasil mendapatkan hibah.
Bukan pula hanya cerita tentang sebuah perguruan tinggi.
Ini adalah cerita tentang kepercayaan terhadap kekuatan ilmu pengetahuan.
Tentang akademisi yang berani membawa gagasan.
Tentang mahasiswa yang berani turun ke masyarakat.
Tentang perguruan tinggi yang berani mengambil peran.
Dan tentang Papua yang terus menunjukkan bahwa dari Timur Indonesia pun dapat lahir karya yang memiliki gaung nasional.
Yoga Andriyan membawa gagasan.
Nayla Putri Maharani dan Amon Yosep Lemauk membawa energi generasi muda.
UNIMUDA Sorong menyediakan ruang tumbuh.
Masyarakat menjadi ruang pengabdian.
Dan Kosabangsa 2026 menjadi panggung kolaborasinya.
DARI SORONG, UNTUK PAPUA.
DARI PAPUA, UNTUK INDONESIA.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan hanya seberapa banyak teori yang mampu disampaikan di ruang kelas.
Melainkan seberapa besar ilmu yang dimilikinya mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Dan ukuran keberhasilan seorang mahasiswa bukan hanya seberapa tinggi IPK yang diraih.
Melainkan seberapa siap ia menggunakan ilmunya ketika masyarakat memanggil.
Hari ini, Yoga Andriyan bersama Nayla Putri Maharani dan Amon Yosep Lemauk sedang menapaki perjalanan itu.
Sebuah perjalanan yang dimulai dari Sorong.
Sebuah perjalanan yang membawa nama UNIMUDA.
Sebuah perjalanan yang menegaskan bahwa ilmu pemerintahan bukan hanya tentang memahami negara—tetapi tentang menghadirkan negara yang lebih dekat, lebih responsif, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.
KOSABANGSA 2026 BUKAN SEKADAR HIBAH.
IA ADALAH PANGGILAN UNTUK MENGABDI.
Dan dari Tanah Papua, panggilan itu sedang dijawab.